A. KONSEP BELAJAR, PEMBELAJARAN DAN MENGAJAR
Bila terjadi proses belajar, maka
bersama itu pula terjadi proses mengajar. Hal itu kiranya mudah dipahami,
karena bila ada yang belajar. Hal ini kiranya mudah dipahami, karena bila ada
yang belajar sudah barang tentu ada yang mengajarnya , dan begitu pula
sebaliknya kalau ada yang mengajarnya, dan begitu pula sebaliknya kalau ada
yang mengajar tentu ada yang belajar . kalau sudah terjadi suatu proses/saling
berintraksi, antara yang mengajar dengan yang belajar, sebenarnya berada pada
suatu kondisi yang unik, sebab secara sengaja atau tidak sengaja ,
masing-masing pihak berada dalam suasana belajar . Jadi guru
walaupun dikatakan sebagai pengajar, sebenarnya secara tidak langsung juga
melakukan belajar.
Perlu ditegaskan bahwa setiap saat
dalam kehidupan terjadi suatu proses belajar – mengajar, baik sengaja maupun
tidak sengaja, disadari atau tidak disadari. Dari proses belajar – mengajar ini
akan diproleh suatu hasil, yang pada umumnya disebut hasil pengajaran, atau
dengan istilah tujuan pembelajaran atau hasil belajar. Tetapi agar memproleh
hasil yang optimal, proses belajar – mengajar harus dilakukan dengan sadar dan
sengaja serta terorganisasi secara baik.
Didalam proses belajar – mengajar, guru
sebagai penagajar dan siswa sebagai subjek belajar, dituntut adanya propil
kualifikasi tentu dalam hal pengetahuan, kemampuan, sikap dan tatanilai serta
sifat – sifat pribadi, agar proses itu dapat berlangsung dengan efektif dan
efisien. Untuk itu, orang kemudian mengembangkan berbagai pengetahauan,
misalnya psikologi pendidikan medel mengajar,
pengelolaan pengajaran dan ilmu – ilmu lain yang dapat menunjang proses
belajar-mengajar itu.
1. Makna
belajar
Usaha pemahaman mengenai makna belajar ini akan
diawali dengan mengemukakan beberapa difenisi tentang belajar. Ada beberapa
difinisi tentang belajar. Dan beberapa difinisi tentang belajar, antara lain
dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Cronbach
memberikan defenisi : learning is show by a change in behavior as a result of experience(:belajar adalah pertunjukan oleh perubahan perilaku sebagai hasil dari
pengalaman
b. Harold
Spears memberikan batasan: learning is shown by observe, to read,
to imitate, to try something themseleves, to listen , to follow
direction. (pembelajaran ditunjukkan
dengan mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu diri mereka, mendengarkan,
mengikuti arah.)
c. Geoch,
mengatakan : learning is a change in performance as a result of
practice. Ini berarti bahwa belajar membawa perubahan dalam
performance, dan perubahan itu sebagai akibat dari latihan ( practice ).
Dari ketiga definisi di atas, maka
dapat diterangkan bahwa belajar itu senantiasa merupakan perubahan tingkah laku
atau penampilan, dengan serangkaian
kegiatan misalnya dengan membaca,mengamati, mendengarkan, meniru dan lain
sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik, kalau si subjek belajar itu
mengalami atau melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik.
Selanjutnya ada, yang
mendefinisikan: “ belajar adalah berubah”. Dalam hal ini yang dimaksudkan
belajar berarti usaha merubah tingkah laku. Jadi belajar akan membawa suatu
perubahan pada individu – individu yang belajar . perubahan tidak hanya
berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan,tetapi juga berbentuk kecakapan,
keterampilan , sikap, pengertian harga diri, minat , watak , penyesuaian diri.
Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa belajar itu sebagai rangkaian
kegiatan jiwa raga, pisko-fisik untuk menuju keperkembangan pribadi manusia
seutuhnya, yang berarti menyangkut unsur cipta, rasa dan karsa, ranah
kognitif,afektif, dan psikomoto
Menurut Benyamin. S. Bloom, meliputi tiga ranah /matra, yaitu : matra
kognitif, afektif dan
psikomotorik. Masing – masing matra atau domain ini
dirinci lagi menjadi beberapa jangkauan kemampuan ( level of
competence) rincian ini dapat disebut sebagai berikut:
a. Kognitif domain :
1) Knowledge (pengetahuan, ingatan )
2) Camprehension (pemahaman, menjelaskan, meringkas , contoh )
3) Analysis ( menguraikan, menentukan hubungan ) .
4) Synthesis ( mengorganisasikan, merencanakan , membentuk bangunan
baru )
5) Evaluation (manilai)
6) Application (menerapkan)
Contohnya
siswa dapat menjelaskan tentang masalah-masalah penjaabaran ,contohnya dalam bidang
mata pelajaran tertentu dan mereka da[at menjelaskan tentang suatu topik
beserta pengembangannya.
b. Affective Domain:( sikap moral dan tingkah laku )
1) Recieving (sikap menerima)
2) Responding (memberikan respons )
3) Valuing (nilai )
4) Organization
(organisasi )
5) Characterization (karakteristik)
Contoh
siswa dating tepat waktu ,siswa dapat bekerjasama melakuakan ,melakukan sesuatu
dengan benar dan rasa kesadaran.
c. Psychomotor Domain :( keterampilan)
1) Intiatory level.
2) Pre-rotine level.
3) Rountinized level
Contoh
siswa dapat melakukan dengan benar karena keterampilan,sesuai dengan yang di
contohkan .
Target jangkauan
mengenai pencapaian level sebagaimana dijajarkan di tiap – tiap domain/matra, sudah
barang tentu sesuai dengan tujuan belajarnya, tidak mesti harus mencapai yang
tertinggi.:
Untuk melengkapi pengertian
mengenai makna belajar, perlu kiranya dikemukakan prinsip – prinsip yang
berkaitan dengan belajar.dalam hal ini ada beberapa prinsip yang penting untuk
diketahui, antara lain :
a. Belajar pada
hakikatnya menyangkut potensi manusiawi dan kelakuannya.
b. Belajar
memerlukan proses dan penahapan serta kematanagn dari para siswa.
c. Belajar akan
lebih mantap dan efektif, bila didorong dengan motivasi dari dalam/ dasar
kebutuhan /kesadaran atau intrinsic motivation, lain halnya
belejar dengan rasa takut atau dibarengi dengan rasa tertekan dan menderita.
d. Dalam banyak
hal, belajar merupakan proses percobaan (dengan kemungkinan berbuat keliru
)dan conditioning atau pembiasaan.
e. Kemampuan
belajar seorang siswa harus di perhitungkan dalam rangka menentukan isi
pelajaran.
f. Belajar
dapat melakukan tiga cara
1) Diajarkan
secara langsung ;
2) Kontrol,
kontak, penghayatan, pengalaman langsung ( seperti anak belajar bicara, sopan
santun, dan lain – lain );
3) Pengenalan
dan /atau peniruan
g. Belajar
melalui praktik atau mengalami secara langsung akan lebih efektif mampu membina
sikap, keterampilan, cara berpikir kritis dan lain – lain, bila dibandingkan
dengan belajar hafalan saja.
h. Perkembangan
pengalaman siswa akan banyak
mempengaruhui kemampuan belajar yang bersangkutan.
i. Bahan
pelajaran yang bermakna/berarti, lebih mudah dan menarik untuk dipelajari,
daripada bahan yang kurang bermakna.
j. Informasi
tentang kelakuan baik, pengetahuan, kesalahan serta keberhasilan siswa, banyak
membantu kelancaran dan gairah belajar.
k. Belajar
sedapat mungkin diubah kedalam bentuk aneka ragam tugas, sehingga anak – anak
melakukan dialog dalam dirinya atau mengalaminya sendiri
2. Tujuan
belajar
Dalam mencapai tujuan belajar
perlu diciptakan adanya sistem lingkungan (kondisi ) belajar yang lebih
kodusif. Hal ini akan berkaitan dengan mengajar. Mengajar diartikan
sebgai suatau usaha penciptaan sistem lingkunag yang memungkinkan terjadinya
proses belajar.
Kalau di tinjau secara umum, maka
tujuan belajar itu ada tiga jenis.
1. Untuk
mendapat kan pengetahuan
2. Penenaman
konsep dan keterampilan
3. Pembentukan
sikap
1. Pembelajaran
Reigeluth, Bunderson dan Meril
(1977) menyatakan strategi mengorganisasi isi pelajaran disebut sebagai
struktural strategi, yang mengacu pada cara untuk membuat urutan dan
mensintesis fakta, konsep prosedur dan prinsip yang berkaitan.
Secara umum istilah belajar dimaknai
sebagai suatu kegiatan yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku.
Dengan pengertian demikian, maka pembelajaran dapat dimaknai sebagai suatu
kegiatan yang dilakukan oleh guru atau seorang pendidik sedemikian rupa,
sehingga tingkah laku siswa berubah
ke arah yang lebih baik . Adapun yang dimaksud dengan proses pembelajaran adalah
sarana dan cara bagaimana suatu generasi belajar, atau dengan kata lain
bagaimana sarana belajar itu secara efektif digunakan. Hal ini tentu berbeda
dengan proses belajar yang diartikan sebagai cara bagaimana para pembelajar itu
memiliki dan mengakses isi pelajaran itu sendiri .(MAKALAH MADI)
Dari
pengertian tersebut, maka dapat dipahami bahwa pembelajaran membutuhkan
hubungan dialogis yang sungguh-sungguh antara guru dan peserta didik, dimana
penekanannya adalah pada proses pembelajaran oleh peserta didik(student of
learning), dan bukan pengajaran oleh guru(teacher of teaching) .
Konsep seperti ini membawa konsekuensi kepada fokus pembelajaran yang lebih
ditekankan pada keaktifan peserta didik sehingga proses yang terjadi dapat
menjelaskan sejauh mana tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat
dicapai oleh siswa.
2. Tujuan
Pembelajaran
Tujuan pembelajaran adalah salah
satu aspek yang perlu dipertimbangkan dalam merencanakan pembelajaran. Segala
kegiatan pembelajaran muaranya pada tercapainya tujuan tersebut.
Dilihat dari sejarahnya, tujuan pembelajaran pertama kali diperkenalkan oleh B.
F Skinner pada tahun 1950 yang diterapkannya dalam ilmu perilaku (Behavioural
science) dengan maksud untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Kemudian diikuti
oleh Robert Mager yang menulis buku yang berjudul: “Preparing Instructional
Objective” padatahun 1970
diseluruh lembaga pendidikan termasuk di Indonesia. Tujuan
pembelajaran ini bukan saja memperjelas arah yang ingin dicapai dalam suatu
kegiatan belajar, tetapi dari segi efisiensi diperoleh hasil belajar yang
maksimal
Pengertian
yang diberikan para ahli pembelajaran tentang tujuan pembelajaran, yang satu sama lain
memiliki kesamaan disamping ada perbedaan sesuai dengan sudut pandang
garapannya. Robert F. Mager (1962) misalnya memberikan pengertian tujuan
pembelajaran sebagai tujuan perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat
dikerjakan oleh siswa ataupesertadidik pada
kondisi dan tingkat kompetensi tertentu. Pengertian kedua dikemukakan oleh
Edwar L. Dejnozka dan David E. Kapel (1981), juga Kemp (1977) yang memandang
bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan
dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisna untuk
menggambrkan hasil belajar yang diharapakan. Perilaku ini dapat berupa fakta
yang samar. Definisi ke tiga dikemukakan oleh Fred Percival dan Henry Ellington
(1984) yakni tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan yang jelas dan
menunjukan penampilan atau keterampilan siswa tertentu yang diharapkan dapat
dicapai sebagai hasil belajar
Peserta didik ini dituntut
keaktifannya bukan hanya dituntut secara fisik saja, tetapi juga dari segi
kejiwaan. Apabila hanya fisik peserta didik saja yang aktif, tetapi pikiran dan
mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak
tercapai. Ini sama halnya dengan peserta didik tidak belajar, karena peserta
didik tidak merasakan perubahan di dalam dirinya .
Pembelajaran adalah
proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, sehingga terjadi
perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dan tugas guruataupendidikadalah mengkoordinasikan lingkungan agar menunjang
terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Pembelajaran juga dapat diartikan
sebagai usaha sadar pendidik untuk membantu peserta didik agar mereka dapat
belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Pentingnyaperananseorangpendidik sebagai fasilitator yang
menyediakan fasilitas dan menciptakan situasi yang mendukung peningkatan
kemampuan belajar siswa
3. Faktor-faktor
yang mempengaruhi Pembelajaran
Faktor-faktor
yang mempengaruhi pembelajaran adalah sebagai berikut :
1.
Faktor Kecerdasan
Kecerdasan ialah kemampuan seseorang
untuk melakukan kegiatan berfikir yang bersifatnya rumit dan abstrak. Tingkat
kecerdasan dari masing-masing tidak sama. Ada yang tinggi, ada yang sedang dan
ada pula yang rendah. Orang yang tingkat kecerdasannya tinggi dapat mengolah
gagasan yang abstrak, rumit dan sulit dilakukan dengan cepat tanpa banyak
kesulitan-kesulitan dibandingkan dengan orang yang kurang cerdas. Orang yang
cerdas itu dapat memikirkan dan mengerjakan lebih banyak, lebih cepat dengan
tenaga yang relatif sedikit. Kecerdasan adalah suatu kemapuan yang dibawa dari
lahir sedangkan pendidikan tidak dapat meningkatkannya, tetapi hanya dapat
mengembangkannya. Namun hal ini tingginya kecerdasan seseorang bukanlah suatu
jaminan bahwa ia akan berhasil menyelesaikan pendidikan dengan baik, karena
keberhasilan dalam belajar bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan saja tetapi
juga oleh faktor-faktor lainnya.
2.
Faktor Belajar
Faktor
belajar disini adalah semua segi kegiatan belajar, misalnya kurang dapat
memusatkan perhatian kepada pelajaran yang sedang dihadapi, tidak dapat
menguasai kaidah yang berkaitan sehingga tidak dapat membaca seluruh bahan yang
seharusnya dibaca. Termasuk di sini kurang menguasai cara-cara belajar efektif
dan efisien.
3.
Faktor Sikap
Banyak
pengaruh faktor sikap terhadap kegiatan dan keberhasilan siswa dalam belajar.
Sikap dapat menentukan apakah seseorang akan dapat belajar dengan lancar atau
tidak, tahan lama belajar atau tidak, senang pelajaran yang di hadapinya atau
tidak dan banyak lagi yang lain. Diantara sikap yang dimaksud di sini adalah
minat, keterbukaan pikiran, prasangka atau kesetiaan. Sikap yang positif
terhadap pelajaran merangsang cepatnya kegiatan belajar.
4.
Faktor Kegiatan
Faktor
kegiatan ialah faktor yang ada kaitannya dengan kesehatan, kesegaran jasmani
dan keadaan fisik seseorang. Sebagaimana telah diketahui, badan yang tidak
sehat membuat konsentrasi pikiran terganggu sehingga menganggu kegiatan
belajar.
5.
Faktor Emosi dan Sosial
Faktor emosi
seperti tidak senang dan rasa suka dan faktor sosial seperti persaingan dan
kerja sama sangat besar pengaruhnya dalam proses belajar. Ada diantara faktor
ini yang sifatnya mendorong terjadinya belajar tetapi ada juga yang menjadi
hambatan terhadap belajar efektif.
6.
Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan ialah keadaan dan
suasana tempat seseorang belajar. Suasana dan keadaan tempat belajar itu turut
juga menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan belajar. Kebisingan, bau busuk
dan nyamuk yang menganggu pada waktu belajar dan keadaan yang serba kacau di
tempat belajar sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar. Hubungan
yang kurang serasi dengan teman dapat menganggu kosentrasi dalam belajar.
7.
Faktor Guru
kemampuan guru mengajar, hubungan guru dengansiswasertakepribadian guru dan
perhatian guru terhadap kemampuan siswanya turut mempengaruhi keberhasilan
belajar. Guru yang kurang mampu dengan baik dalam mengajar dan yang kurang
menguasai bahan yang diajarkan dapat menimbulkan rasa tidak suka kepada yang
diajarkan dan kurangnya dorongan untuk menguasainya dipihak siswa. Sebaliknya
guru yang pandai mengajar yang dapat menimbulkan pada diri siswa rasa
menggemari bahan yang diajarkannya sehingga tanpa disuruh pun siswa banyak
menambah pengetahuannya dibidang itu dengan membaca buku-buku, majalah dan
bahan cetak lainnya. Guru dapat juga menimbulkan semangat belajar yang tinggi
dan dapat juga mengendorkan keinginan belajar yang sungguh-sungguh. Siswa yang
baik berusaha mengatasi kesulitan ini dengan memusatkan perhatian kepada bahan
pelajaran, bukan kepada kepribadian gurunya.
C. PENGERTIAN
MENGAJAR
Mengajar pada dasarnya merupakan
suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang
mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar. Kalau belajar
dikatakan milik siswa, maka mengajar sebagai kegiatan guru. Disamping itu ada
beberapa difinisi lain, yang dirumuskan secara rinci dan tampak bertingkat.
Mengajar adalah
menyampaikan pengetahuan pada siswa. Menurut
pengertian ini berarti tujuan belajar dari siswa itu hanya sekedar ingin
mendapatkan atau menguasai pengetahuan.[5]
Dalam pengertian yang luas, mengajar diartiakn
sebagai suatau aktivitas mengorganisasikan atau mengatur lingkunagn sebaik –
baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadi proses belajar. Atau
dikatakan, mengajar sebagai upaya menciptakan kondisi ynag kondusif untuk
berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa. Kondisi itu diciptakan
sedemikian rupa sehingga membantu perkembangan anak secara optimal baik jasmani
maupun rohani, baik fisik maupun mental.
Ada pun hasil pengajaran itu
dikatakan betul betul baik, apabila memiliki ciri –ciri sebagai berikut:
1. Hasil itu
tahan lama dan dapat digunakan dalam kehidupan oleh siswa. Dalam hal ini guru
akan senantiasa menjadi pembimbing dan pelati yang baik bagi para siswa yang
akan menghadapi ujian.
2. Hasil itu
merupakan pengetahuan “asli” atau “otentik.” Pengetahuan hasil proses
belajarmengajar itu bagi siswa seolah – olah telah merupakan bagian kpribadian
bagi diri setiap siswa, sehingga akan mendapat mempengaruhi pandanagn dan
caranya mendekati suatu permasalahan. Sebab pengetahuan itu dinyatakan dan
penuh makana bagi dirinya.
Dalam hubungan itu ada rumusan lain
mengenai pengertian mengajar diartiakn sebagai kegiatan mengorganisasi proses
belajar. Dengan
demikian, permasalahan yang dihadapi oleh pengajaran yang dipandang baik untuk
menghasilkan produk yang baik, adalah bagaimana
mengorganisasikan proses belajar untuk mencapai pengetahuan otentik dan
tahan lama. Karena mengajar merupakan kegiatan
mengorganisasikan proes belajar secara baik, maka guru sebagai pengajar harus
berperan sebagai organisator yang baik pula. Secara makro guru dituntut untuk
dapat mengorganisasikan komponen – komponen yang terlibat di dalam proses
belajar - mengajar, sehingga di harapkan terjadi proses pengajaran yang
optimal.
Perlu ditambahkan, bagi seorang
guru/ pengajar harus menyadari bahwa belajar adalah ingin “mengerti”. Belajar
adalah mencari, menemukan dan melihat pokok permasalahan nya belajar juga
dikatakan sebagai upaya memecahkan persoaalan yang dihadapi. Hal ini membawa
konsekuensi bahwa kegiatan mengajar dalam proses pengajarannya juga harus
menyediakan kondisi yang problematik dan guru membimbingnya
Menurut penelitian psikologis,
mengungkapkan adanya sejumlah aspek yang khas sifatnya dari yang dikatakan
belajar penuh makna. Belajar yang penuh makna itu adalah sebagai berikut
:
1. Belajar
menurut esensinya memiliki tujuan , belajar
memiliki makna yang penuh, dalam arti siswa/subjek belajar, memperhatikan makna
tersebut.
2. Dasar proses
belajar adalahsesuatu yang bersifat eksplorasi serta menemukan dan bukan
merupakan pengulanagn rutin.
3. Hal
belajar yang dicapai itu selalu memunculkan pemahaman atau pengertian
atau menimbulkan reaksi atau jawaban yang dapat dipahami dan diterima oleh
akal.
4. Hasil
belajar itu tidak terkait pada situasi di tempat mencapai, tetapi dapat juga
digunakan dalam situasi lain.
1. Antara
“mengajar “ dan “mendidik “
Bicara tentang pengertian
mengajar kalau dilihat esensinya dalam proses belajar – mengajar, sudah
menyangkut kegiatan mendidik, dalam arti untuk mengantarkan siswa kepada tingkat kedewasaanya , baik secara fisik maupun mental. Tetapi
dalam uraian berikut ini mencoba membedakan, dengan suatu maksud memberikan
suatu penamaan terhadap kenyataan yang kini sedang berkembang . kenyataan yang
dimaksud adalah keadaan proses dan hasil pengajaran di sekolah – sekolah.
Sehingga pembedaan ini tidak ensensial dan konseptual. Oleh karena itu mengajar
dan mendidik akan ditempatkan di antara tanda petik (“.....”).
Memang kalau dilihat dari segi asal
katanya, keduanya memiliki arti yang sedikit beda .” mengajar “.memberi
pelajaran misalnya memberi pelajaran matematika, memberi pelajaran bahasa,
sejarah, agar siswa di ajari mengetahui dan paham tentang bahan yang diajarkan
tadi.” MENDIDIK “ : memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan
kecerdasan pemikiran. Menurut umum mengajar diartiakn sebagai usaha guru untuk
menyampaikan dan menanamkan pengetahuan kepada siswa/anak didik .
Mendidik dapat di artiakan sebagai
suatu usaha untuk mengantarkan anak didik kearah kedewasaannya baik secara
jasmanai maupun rohani . Oleh karena
itu mendidik dikatakan sebagai upaya pembinaan pribadi, sikap mental dan akhlak
anak didik . dibandingkan dengan pengertian “mengajar “, maka pengertian
“mendidik “ lebih mendasar . “ mendidik “ tidak sekedar transfer of knowledge ,
tetapi juga transfer of values “ mendidik “ diartikan lebih komprehensif, yakin
usaha membina diri anak didik secara utuh baik matra kognitif,
psikomotorik maupun efektif, agar tumbuh sebagai manusia – manusia yang
berkepribadian.
Berkait dengan soal pembentukan kepribadian siswa(anak didik) “mendidik” juga harus merupakan usaha memberikan
tuntutan kepada siswa untuk
dapat berdiri sendiri dengan norma – norma kemnusiaan yang sesuai dengan
kepribadian bangsa, yakni pancasila. Untuk mengantarkan anak didik ketingkat
itu memerlukan berbagai komponen dan proses, sepertian kegiatan penyampaian
materi pelajaran, kegiatan motivasi, penenaman nilai – nilai yang sesuai dengan
materi yang diberikan. Itulah maka “mendidik “ harus merupakan usaha untuk
memberikan motivasi kepada siswa agar
terjadi proses internalisasi nilai – nilai pada dirinya sehingga akan lahir
suatu sikap yang baik.
Sehubung
dengan urayan dan kenyataan diatas,”mengajar” dalam kegiatan belajar – mengajar
harus diterjemahkan secara konseptual, disikroniskan dengan pengertian
“mendidik “ oleh karena itu , “Raka Joni” memberikan
batasan mengajar adalah menyediakan kondisi optimal yang merangsang serta
mengarahkan kegiatan belajar anak didik untuk memproleh pengetahuan,
keterampilan dan nilai atau sikap yang dapat membawa perubahan tingkah laku
maupun pertumbuhan sebagai pribadi.
B. JENIS JENIS AKTIVITAS BELAJAR
Program telah
mengadakan klasifikasi tentang kegiatan-kegiatan belajar sebagai berikut:
1. Kegiatan penyelidikkan: membaca, berwawancara, mendengarkan radio, menonton
film, dan avlat-alat AVA lainnya.
2. Kegiatan penyajian: laporan, panel dan round table dis-cussion,
mempertunjukkan visual aid, membuat grafik dan chart.
3. Kegiatan latihan mekanis digunakan bila kelompok menemui kesulitan sehingga
perlu diadakan ulangan-ulangan dan pelatihan.
4. Kegiatan apresiasi: mendengarkan musik, membaca, menyaksikan gambar.
5. Kegiatan observasi dan mendengarkan: membentuk alat-alat dari murid sebagai
alat bantu belajar.
6. Kegiatan ekspresi kreatif: pekerjaan tangan, menggambar, menulis,
bercerita, bermain, membuat sajak, bernyanyi, dan bermain musik.
7. Bekerja dalam kelompok: pelatihan dalam tata kerja demokratis, pembagian
kerja antara kelompok dalam melaksanakan rencana.
8. Pecobaan: belajar mencobakan cara-cara mengerjakan sesuatu, kerja
laboratorium dengan menekankan perlengkapan-perlengkapan yang dapat dibuat oleh
murid di samping perlengkapan-perlengkapan yang telah tersedia.
9. Kegiatan mengorganisasikan dan menilai: diskriminasi, menyeleksi, mengatur
dan menilai pekerjaan yang dikerjakan oleh mereka sendiri.
Paul D. Diedrich membagi kegiatan belajar ke dalam delapan kelompok, yaitu:
1. Kegiatan visual: membaca, melihat gambar, mengamati eksperimen, mengamati
demostrasi dan pameran, mengamati orang lain bekerja atau bermain.
2. Kegiatan moral: mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu
kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat,
berwawancara, diskusi dan interupsi.
3. Kegiatan mendengarkan: mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan
percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan permainan, mendengrkan radio.
4. Kegiatan menulis: menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan,
bahan-bahan fotokopian, membuat out-line atau rangkuman, mengerjakan tes,
mengisi angket.
5. Kegiatan menggambar: menggambar, membuat grafik, chart, diagram, peta,
pola.
6. Kegiatan motorik: melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan
pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari, berkebun.
7. Kegiatan mental: merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis
faktor-faktor, melihat hubungan, membuat keputusan.
8. Kegiatan emosional: minat, membedakan, berani, tenang, dan lain-lain.
Kegiatan nomor 8 terdapat dalam suatu jenis kegiatan dan saling lingkup.
Gertrude M. Whipple membagi kegiatan-kegiatan murid sebagai berikut:
1. Bekerja dengan alat-alat visual
a.
Mengumpulkan gambar-gambar dan bahan-bahan ilustrasi lainnya.
b.
Mempelajari gambar-gambar, stretograph, slide, film-film khusus,
mendengarkan penjelasan-penjelasan, mengajukan pertanyaan.
c.
Mengulangi pameran
d.
Mencatat pertanyaan-pertanyaan yang menarik minat sambil mengamati
bahan-bahan visual.
e.
Memilih alat-alat visual ketika memberikan laporan lisan.
f.
Menyusun pameran, menulis tabel dan penjelasan-penjelasan.
g.
Mengatur file material untuk dipergunakan kelak.
2. Ekskursi dan trip
a.
Mengunjungi musium, akuarium, kebun binatang.
b.
Mengundang lembaga-lembaga atau jawatan-jawatan yang dapat memberikan
keterangan-keterangan dan bahan-bahan.
c.
Menyaksikan demonstrasi, seperti pabrik sabun, kedudukan surat kabar.
3. Mempelajari masalah-masalah
a.
Mencari informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penting.
b.
Mempelajari ensiklopedi dan buku-buku referensi.
c.
Membawa buku-buku dari rumah dan dari perpustakaan umum untuk melengkapi
koleksi sekolah.
d.
Mengirim surat kepada badan-badan usaha untuk memperoleh informasi dan
bahan-bahan.
e.
Melaksanakan petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh guide sheet yang
telah dipersiapkan oleh biru.
f.
Membuat catatan-catatan sebagai persiapan laporan dan diskusi-diskusi.
g.
Menafsirkan peta untuk menemukan lokasi-lokasi.
h.
Melakukan eksperimen, misalnya membuat sabun
4. Mengapresiasi literatur
a.
Membaca cerita-cerita yang menarik.
b.
Membaca sajak-sajak untuk kesenian.
c.
Mendengarkan bacaan untuk kesenangan dan informasi.
5. Ilustrasi dan konstruksi
a.
Membuat chart dan diagram.
b.
Membuat blueprint.
D.
PRINSIP DAN TIPE GAYA BELAJAR
Tipe belajar ini, diklasifikasikan menjadi empat bagian yaitu:
1.
Tipe converger
Anak yang
memiliki tipe ini belajar melalui proses Konseptualisasi Abstrak (berpikir) dan
Eksperimentasi (berbuat). Artinya, dengan kecenderungan ini gaya belajar
peserta didik lebih didominasi oleh intelek (pemikiran) dan perbuatan
mencoba-coba (dengan pengalaman praktis). Dengan demikian peserta didik
menghindari pengajaran yang semata-mata teoritis. Hal teoritis dan praktis
harus berjalan seimbang. Gaya semacam ini umumnya mendominasi hidup teknokrat.
2. Tipe
diverger
Pada tipe
diverger, anak belajar melalui Pengalaman-pengalaman Kongkret (perasaan) dan
Observasi Reflektif (pengamatan). Dengan tipe ini peserta didik lebih
didominasi oleh intuisi, perasaan, dan sensitivitas. Ia mengamati contoh yang
didemonstrasikan oleh guru dan menyimak hal-hal yang erat kaitannya dengan
emosi seperti keindahan gerak dan suasana. Banyak seniman memiliki
kecenderungan belajar seperti ini.
3. Tipe
assimilator
Anak bertipe
assimilator ini belajar melalui Konseptualisasi Abstrak (kuat dalam berpikir)
dengan Observasi Reflektif (pengamatan). Peserta didik dengan gaya belajar ini
cenderung bersifat teoritis, enggan berbuat. Ia berorientasi kepada buku- buku
bacaan dan contoh-contoh. Dari situ ia membangun teori atau keyakinan gaya.
Pada umumnya teorisi dan para filsuf (pemikir) berkembang dengan tipe belajar
demikian.
4. Tipe
accomodator
Pada tipe
ini anak belajar melalui Pengalaman Kongkret (perasaan) dan Eksperimentasi
Aktif (berbuat). Peserta didik dengan kecenderungan belajar ini lebih didominasi
oleh situasi dan hal-hal praktis. Intuisi dan tindakan praktis sangat
diutamakan. Ia tak merasakan perlunya teori-teori yang berorientasi kepada buku
sumber saja. Baginya pengalaman dan perbuatan aktif di lapangan adalah guru
yang terbaik.
C. GAYA BELAJAR
EFEKTIF
Setiap orang
pasti mempunyai cara atau gaya belajar yang berbeda-beda. Banyak gaya yang bisa
dipilih untuk belajar secara efektif. Nah, artikel berikut menjelaskan tujuh
gaya belajar yang mungkin beberapa diantaranya bisa di terapkan pada anak didik
kita :
1. Belajar
dengan kata-kata.
Gaya ini
bisa kita mulai dengan mengajak seorang teman yang senang bermain dengan
bahasa, seperti bercerita dan membaca serta menulis. Gaya belajar ini sangat
menyenangkan karena bisa membantu kita mengingat nama, tempat, tanggal, dan
hal-hal lainya dengan cara mendengar kemudian menyebutkannya.
2. Belajar
dengan pertanyaan.
Bagi
sebagian orang, belajar makin efektif dan bermanfaat bila itu dilakukan dengan
cara bermian dengan pertanyaan. Misalnya, kita memancing keinginan tahuan
dengan berbagai pertanyaan. Setiap kali muncul jawaban, kejar dengan
pertanyaan, hingga didapatkan hasil akhir atau kesimpulan.
3. Belajar
dengan gambar.
Ada sebagian
orang yang lebih suka belajar dengan membuat gambar, merancang, melihat gambar,
slide, video atau film. Orang yang memiliki kegemaran ini, biasa memiliki
kepekaan tertentu dalam menangkap gambar atau warna, peka dalam membuat
perubahan, merangkai dan membaca kartu.
4. Belajar
dengan musik.
Detak irama,
nyanyian, dan mungkin memainkan salah satu instrumen musik, atau selalu
mendengarkan musik. Ada banyak orang yang suka mengingat beragam informasi
dengan cara mengingat notasi atau melodi musik. Ini yang disebut sebagai ritme
hidup. Mereka berusaha mendapatkan informasi terbaru mengenai beragam hal
dengan cara mengingat musik atau notasinya yang kemudian bisa membuatnya
mencari informasi yang berkaitan dengan itu. Misalnya mendegarkan musik jazz,
lalu tergeliik bagaimana lagu itu dibuat, siapa yang membuat, dimana, dan pada
saat seperti apa lagu itu muncul. Informasi yang mengiringi lagu itu, bisa saja
tak sebatas cerita tentang musik, tapi juga manusia, teknologi, dan situasi
sosial politik pada kurun waktu tertentu.
5. Belajar
dengan bergerak.
Gerak
manusia, menyentuh sambil berbicara dan menggunakan tubuh untuk mengekspresikan
gagasan adalah salah satu cara belajar yang menyenangkan. Mereka yang biasanya
mudah memahami atau menyerap informasi dengan cara ini adalah kalangan penari,
olahragawan. Jadi jika Anda termasuk kelompok yang aktif, tak salah mencoba
belajar sambil tetap melakukan beragam aktivitas menyenangkan seperti menari
atau berolahraga.
6. Belajar
dengan bersosialisasi.
Bergabung
dan membaur dengan orang lain adalah cara terbaik mendapat informasi dan belajar
secara cepat. Dengan berkumpul, kita bisa menyerap berbagai informasi terbaru
secara cepat dan mudah memahaminya. Dan biasanya, informasi yang didapat dengan
cara ini, akan lebih lama terekam dalam ingatan.
7. Belajar
dengan Kesendirian.
Ada sebagian
orang yang gemar melakukan segala sesuatunya, termasuk belajar dengan menyepi.
Untuk mereka yang seperti ini, biasanya suka tempat yang tenang dan ruang yang
terjaga privasinya. Jika Anda termasuk yang seperti ini, maka memiliki kamar
pribadi akan sangat membantu Anda bisa belajar secara mandiri.
E. KOMPONEN PENDEKATAN
PEMBELAJARAN
Komponen pembelajaran adalah kumpulan
dari beberapa item yang saling berhubungan satu sama lain yang merupakan hal
penting dalam proses belajar mengajar.
Macam Komponen Pembelajaran
Di dalam pembelajaran, terdapat
komponen-komponen yang berkaitan dengan proses pembelajaran, yaitu :
1. Kurikulum
Secara
etimologis, kurikulum ( curriculum ) berasal dari bahasa Yunani, curir yang
artinya “pelari” dan curere yang berarti “tempat berpacu”.
yaitu suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis
finish. Secara terminologis, istilah kurikulum mengandung arti sejumlah
pengetahuan atau mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa
guna mencapai suatu tingkatan atau ijazah. Pengertian kurikulum secara luas
tidak hanya berupa mata pelajaran atau bidang studi dan kegiatan-kegiatan
belajar siswa saja, tetapi juga segala sesuatu yang berpengaruh terhadap
pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.
Misalnya fasilitas kampus, lingkungan yang aman, suasana keakraban dalam proses
belajar mengajar, media dan sumber-sumber belajar yang memadai.
Kurikulum sebagai rancangan
pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh aspek
kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan
dan dalam perkembangan kehidupan manusia, maka dalam penyusunan kurikulum tidak
bisa dilakukan tanpa menggunakan landasan yang kokoh dan kuat.
2. Guru
Kata Guru berasal
dari bahasa Sansekerta “guru” yang juga
berarti guru, tetapi arti harfiahnya adalah “berat” yaitu seorang pengajar
suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional
dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,
menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Di dalam
masyarakat, dari yang paling terbelakang sampai yang paling maju, guru memegang
peranan penting. Guru merupakan satu diantara pembentuk-pembentuk utama calon
warga masyarakat. Peranan guru tidak hanya terbatas sebagai pengajar (penyampai
ilmu pengetahuan), tetapi juga sebagai pembimbing, pengembang, dan pengelola
kegiatan pembelajaran yang dapat memfasilitasi kegiatan belajar siswa dalam
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
3. Siswa
Siswa atau
Murid biasanya digunakan untuk seseorang yang mengikuti suatu program
pendidikan di sekolah atau lembaga pendidikan lainnya, di bawah bimbingan
seorang atau beberapa guru. Dalam konteks keagamaan murid digunakan sebagai
sebutan bagi seseorang yang mengikuti bimbingan seorang tokoh bijaksana.
Meskipun demikian, siswa jangan selalu dianggap sebagai objek belajar yang
tidak tahu apa-apa. Ia memiliki latar belakang, minat, dan kebutuhan serta
kemampuan yang berbeda. Bagi siswa, sebagai dampak pengiring (nurturent effect)
berupa terapan pengetahuan dan atau kemampuan di bidang lain sebagai suatu
transfer belajar yang akan membantu perkembangan mereka mencapai keutuhan dan
kemandirian.
4. Metode
Metode
pembelajaran adalah cara yang dapat dilakukan untuk membantu proses
belajar-mengajar agar berjalan dengan baik, metode-metode tersebut antara lain
:
a. Metode Ceramah
Metode
ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan
pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti
secara pasif.
b. Metode Tanya Jawab
Metode Tanya jawab adalah suatu
metode dimana guru menggunakan atau memberi pertanyaan kepada murid dan murid
menjawab, atau sebaliknya murid bertanya pada guru dan guru menjawab pertanyaan
murid itu .
c. Metode Diskusi
Metode diskusi dapat diartikan
sebagai siasat “penyampaian” bahan ajar yang melibatkan peserta didik untuk
membicarakan dan menemukan alternatif pemecahan suatu topik bahasan yang
bersifat problematis.
d. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah metode
mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan
melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media
pembelajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang
disajikan.
e. Metode Eksperimen
Metode eksperimen adalah metode
atau cara di mana guru dan murid bersama-sama mengerjakan sesuatu latihan atau
percobaan untuk mengetahui pengaruh atau akibat dari sesuatu aksi.
5. Materi
Materi juga merupakan salah satu
faktor penentu keterlibatan siswa. Adapun karakteristik dari materi yang bagus
menurut Hutchinson dan Waters adalah:
- Adanya teks yang menarik.
- Adanya kegiatan atau aktivitas yang menyenangkan serta meliputi kemampuan berpikir siswa.
- Memberi kesempatan siswa untuk menggunakan pengetahuan dan ketrampilan yang sudah mereka miliki.
- Materi yang dikuasai baik oleh siswa maupun guru.
Dalam kegiatan belajar, materi
harus didesain sedemikian rupa, sehingga cocok untuk mencapai tujuan dengan
memperhatikan komponen-komponen yang lain, terutama komponen anak didik yang
merupakan sentral. Pemilihan materi harus benar-benar dapat memberikan
kecakapan dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.
6. Alat Pembelajaran (Media)
Kata media berasal dari bahasa
latin dan merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti
perantara atau pengantar. Jadi media adalah perantara atau pengantar pesan dari
pengirim kepada penerima pesan. Media pembelajaran adalah perangkat lunak (soft
ware) atau perangkat keras (hard ware) yang berfungsi sebagai alat belajar atau
alat bantu belajar.
7. Evaluasi
Istilah evaluasi berasal dari
bahasa Inggris yaitu “Evaluation”. Menurut Wand dan Brown, evaluasi adalah
suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari suatu hal. Ada
pendapat lain yang mengatakan bahwa evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data
seluas-luasnya, sedalam-dalamnya yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa,
guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan
mengembangkan kemampuan belajar.
F. PEMBELAJARAN
BERBASIS TIK
Pengertian Media Pembelajaran
Berbasis TIK
Media merupakan alat yang harus ada apabila kita ingin memudahkan sesuatu
dalam pekerjaan. Media merupakan alat Bantu yang dapat memudahkan pekerjaan.
Setiap orang pasti ingin pekerjaan yang dibuatnya dapat diselesaikan dengan
baik dan dengan hasil yang memuaskan.
Kata media itu sendiri berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk
jamak dari kata “ medium “ yang berarti “ pengantar atau perantara “, dengna
demikian dapat diartikan bahwa media merupakan wahana penyalur informasi
belajar atau penyalur pesan.
Kit Lay Bourne ( 1985 : 82 ) menyatakan bahwa “ penggunaan media tidak
harus membawa bungkusan berita-berita semua, siswa cukup dapat mengawasi suatu
berita.” Dari pendapat tersebut dapat dihubungkan bahwa penyampaian materi
pelajaran dengan cara komunikasi masih dirasakan adanya penyimpangan pemahaman
oleh siswa. Masalahnya adalah bahwa siswa terlalu banyak menerima sesuatu
ilmu dengan verbalisme. Apalagi dalam proses belajar mengajar yang tidak
menggunakan media dimana kondisi siswa tidak siap, akan memperbesar pekuang
terjadinya verbalisme.
Media yang difungsikan sebagai sumber belajar bila dilihat dari
pengertian harfiahnya juga terdapat manusia didalamnya, benda, ataupun segala
sesuatu yang memungkinkan untuk anak didik memperoleh informasi dan pengetahuan
yang berguna bagi anak didik dalam pembelajaran, dan bagaimana dengan adanya
media berbasis TIK tersebut, khususnya menggunakan presntasi power point dimana
anak didik mempunyai keinginan untuk maju, dan juga mempunyai kreatifitas yang
tinggi dan memuaskan dalam perkembangan mereka di kehidupan kelak.
Sasaran penggunaan media adalah agar anak didik mampu mencipatakan
sesuatu yang baru dan mampu memanfaatkan sesuatu yang telah ada untuk
dipergunakan dengan bentuk dan variasi lain yang berguna dalam
kehidupannya,. Dengan demikian mereka dengan mudah mengerti dan mamahami materi
pelajaran yang disampaikan oleh guru kepada mereka.
Arief S. Sadiman ( 1984:6 ) mengatakan bahwa media “ adalah segala alat
fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar
seperti film, buku dan kaset “. RE Clark ( 1996 : 62 ) mengungkapkan bahwa “
the of of media to encourage student to invest more afford in hearing has along
history “.
Dari pandangan yang ada di atas dapat dikatakan bahwa media merupakan
alat yang memungkinakn anak muda untuk mengerti dan memahami sesuatu dengan
mudah dan dapat untuk mengingatnya dalam waktu yang lama dibangdingkan dengan
penyampaian materi pelajaran dengan cara tatap muka dan ceramah tanpa alat
bantuan.
Menurut Soeparno ( 1987:8 ) menyebutkan ada beberapa alasan memilih media
dalam proses belajar mengajar, yakni :
a.
ada berbagai macam media yang mempunyai kemungkinan dapat kita pakai di
dalam proses belajar mengajar,
b.
ada media yang mempunyai kecocokan untuk menyampaikan informasi tertentu
c.
ada perbedaan karakteristik setiap media
d.
ada perbedaan pemakai media tersebut
e.
ada perbedaan situasi dan kondisi tempat media dipergunakan
Bertitik tolak dari pendapat tersebut, jelaslah bahwa memilih media tidak
mudah. Media yang akan digunakan harus memperhatikan beberapa ketentuan dengan
pertimbangan bahwa penggunaan media harus benar-benar berhasil guna dan berdaya
guna untuk meningkatkan dan memperjelas pemahaman siswa.
b. Penentuan dan Pembuatan Media
Pembelajaran Berbasis TIK
Kriteria
yang paling utama dalam pemilihan media bahwa media harus disesuaikan dengan
tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai. Contoh : bila tujuan
atau kompetensi peserta didik bersifat menghafalkan kata-kata tentunya media
audio yang tepat untuk digunakan. Jika tujuan atau kompetensi yang dicapai
bersifat memahami isi bacaan maka media cetak yang lebih tepat digunakan. Kalau
tujuan pembelajaran bersifat motorik (gerak dan aktivitas), maka media film dan
video bisa digunakan. Di samping itu, terdapat kriteria lainnya yang bersifat
melengkapi (komplementer), seperti: biaya, ketepatgunaan; keadaan peserta
didik; ketersediaan; dan mutu teknis.
Penggunaan media pembelajaran yang
berbasis TIK merupakan hal yang tidak mudah. Dalam menggunakan media tersebut
harus memperhatikan beberapa teknik agar media yang dipergunakan itu dapat
dimanfaatkan dengan maksimal dan tidak menyimpang dari tujuan media tersebut,
dalam hal ini media yang digunakan adalah Komputer dan LCD Proyektor. Arief S.
Sadiman ( 1996 : 83 ) mengatakan bahwa :
Ditinjau dari kesiapan pengadaannya,
media dikelompokkan dalam dua jenis, yaitu media jadi karena merupakan komoditi
perdagangan yang terdapat di pasaran luas dalam keadaan siap pakai ( media by
utilization ) dan media rancangan yang perlu dirancang dan dipersiapkan secara
khusus untuk maksud dan tujuan pembelajaran tertentu.
Dari pernyataan tersebut di atas dapat dikategorikan
bahwa media Komputer dan LCD Proyektor meupakan media rancangan yang mana
didalam penggunaannya sangat diperlukan perancangan khusus dan didesain
sedemikian rupa agar dapat dimanfaatkan. Perangkat keras ( hard ware ) yang
difungsikan dalam menginspirasikan media tersebut adalah menggunakan satu unit
computer lengkap yang sauah terkoneksikan dengan LCD Proyektor. Dengan demikian
media ini hendaknya menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran khususnya
PKn.
1. Komputer
sebagai Media Pembelajaran
Aplikasi komputer dalam bidang
pembelajaran memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara individual
(individual learning). Pemakai komputer atau user dapat melakukan
interaksi langsung dengan sumber informasi. Perkembangan teknologi komputer
jaringan (computer network/Internert) saat ini telah memungkinkan pemakainya
melakukan interaksi dalam memperoleh pengetahuan dan informasi yang diinginkan.
Berbagai bentuk interaksi pembelajaran dapat berlangsung dengan tersedianya
medium komputer. Beberapa lembaga pendidikan jarak jauh di sejumlah negara yang
telah maju memanfaatkan medium ini sebagai sarana interaksi. Pemanfaatan ini
didasarkan pada kemampuan yang dimiliki oleh komputer dalam memberikan umpan
balik (feedback) yang segera kepada pemakainya. Contoh penggunaan internet ini
adalah digunakan oleh Universitas terbuka dalam penyelenggaraan Universitas
Terbuka Jarak Jauh disamping mahasiswa mendapat modul untuk proses belajar
mengajar dia juga dapat mengakses informasi melalui internet. Kuliah lewat
Internet oleh IBUteledukasi.com. Universitas virtual IBUteledukasi ini
didirikan oleh Adi sasono, Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)
bekerjasama dengan Universitas Tun Abdul Razak (Unitar) Malaysia yang sudah
lebih dulu menyelenggarakan perkuliahan online.
Pada pendidikan jarak jauh Fakultas
Kedokteran Universitas Gajah Mada. Interaksi pembelajaran pada program Magister
Manajemen Rumah Sakit dan Magister Manajemen Pelayanan Kesehatan dilakukan
melalui surat elektronik (e-mail) mahasiswa harus menjawab 75% pertanyaan
melalui e-mail. Contoh lain pemanfaatan jaringan komputer dilakukan di
Universitas Indonesia (UI). Sejak tahun 1994 UI telah mengembangkan
infrastruktur informasi yang dikenal dengan nama Jaringan Universitas Indonesia
Terpadu (JUITA). JUITA menghubungkan sebelas fakultas dan lembaga-lembaga
penting yang ada di UI dengan menggunakan jaringan serat optik (
Sri Hartati, dkk 1997 dalam Benny A. Pribadi dan Rosita,
Tita, 2000).
a). Kelebihan Komputer
Heinich dkk. (1986) mengemukakan
sejumlah kelebihan dan juga kelemahan yang ada pada medium komputer. Aplikasi
komputer sebagai alat bantu proses belajar memberikan beberapa keuntungan.
Komputer memungkinkan mahasiswa belajar sesuai dengan kemampuan dan
kecepatannya dalam memahami pengetahuan dan informasi yang ditayangkan.
Penggunaan komputer dalam proses belajar membuat mahasiswa dapat melakukan
kontrol terhadap aktivitas belajarnya. Penggunaan komputer dalam lembaga
pendidikan jarak jauh memberikan keleluasaan terhadap mahasiswa untuk
menentukan kecepatan belajar dan memilih urutan kegiatan belajar sesuai dengan
kebutuhan. Kemampuan komputer untuk menayangkan kembali informasi yang
diperlukan oleh pemakainya, yang diistilahkan dengan “kesabaran komputer”,
dapat membantu mahasiswa yang memiliki kecepatan belajar lambat. Dengan kata
lain, komputer dapat menciptakan iklim belajar yang efektif bagi mahasiswa yang
lambat (slow learner), tetapi juga dapat memacu efektivitas belajar bagi
mahasiswa yang lebih cepat (fast learner).Disamping itu, komputer dapat
diprogram agar mampu memberikan umpan balik terhadap hasil belajar dan
memberikan pengukuhan (reinforcement) terhadap prestasi belajar mahasiswa.
Dengan kemampuan komputer untuk merekam hasil belajar pemakainya (record
keeping), komputer dapat diprogram untuk memeriksa dan memberikan skor hasil
belajar secara otomatis. Komputer juga dapat dirancang agar dapat memberikan
preskripsi atau saran bagi mahasiswa untuk melakukan kegiatan belajar tertentu.
Kemampuan ini mengakibatkan komputer dapat dijadikan sebagai sarana untuk
pembelajaran yang bersifat individual (individual learning). Kelebihan komputer
yang lain adalah kemampuan dalam mengintegrasikan komponen warna, musik dan
animasi grafik (graphic animation). Hal ini menyebabkan komputer mampu
menyampaikan informasi dan pengetahu-an dengan tingkat realisme yang tinggi.
Hal ini me-nyebabkan program komputer sering dijadikan sebagai sarana untuk
melakukan kegiatan belajar yang bersifat simulasi. Lebih jauh, kapasitas memori
yang dimiliki oleh komputer memungkinkan penggunanya menayangkan kembali hasil
belajar yang telah dicapai sebelumnya. Hasil belajar sebelumnya ini dapat
digunakan oleh siswa sebagai dasar pertimbangan untuk melakukan kegiatan
belajar selanjutnya.
Keuntungan lain dari penggunaan komputer
dalam proses belajar dapat meningkatkan hasil belajar dengan penggunaan waktu
dan biaya yang relatif kecil. Contoh yang tepat untuk ini adalah program
komputer simulasi untuk melakukan percobaan pada mata kuliah sains dan teknologi.
Penggunaan program simulasi dapat mengurangi biaya bahan dan peralatan untuk
melakukan percobaan. (Benny A. Pribadi dan Tita Rosita, 2002)
b). Kekurangan Komputer
Selanjutnya Benny dan Tita (2000)
memberi penjelasan. Disamping memiliki sejumlah kelebihan, komputer sebagai
sarana komunikasi interaktif juga memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan
pertama adalah tingginya biaya pengadaan dan pengembangan program komputer,
terutama yang dirancang khusus untuk maksud pembelajaran. Disamping itu,
pengadaan, pemeliharaan, dan perawatan komputer yang meliputi perangkat keras
(hardware) dan perangkat lunak (software) memerlukan biaya yang relatif tinggi.
Oleh karena itu pertimbangan biaya dan manfaat (cost benefit analysis) perlu
dilakukan sebelum memutuskan untuk menggunakan komputer untuk keperluan
pendidikan. Masalah lain
adalah compatability dan incompability antara
hardware dan software.
Penggunaan sebuah program komputer
biasanya memerlukan perangkat keras dengan spesifikasi yang
sesuai. Perangkat lunak sebuah komputer seringkali tidak dapat digunakan
pada komputer yang spesifikasinya tidak sama. Disamping kedua hal di atas,
merancang dan memproduksi program pembelajaran yang berbasis komputer (computer
based instruction) merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Memproduksi program
komputer merupakan kegiatan intensif yang memerlukan waktu banyak dan juga
keahlian khusus.
2. Penggunaan Jaringan Komputer untuk
Pembelajaran
Teknologi jaringan komputer/internet
memberi manfaat bagi pemakainya untuk melakukan komunikasi secara langsung
dengan pemakai lainnya. Hal ini dimungkinkan dengan diciptakannya sebuah alat
bernama modem. Jaringan komputer/internet memberi kemungkinan bagi
pesertanya untuk melakukan komunikasi tertulis dan saling bertukar pikiran
tentang kegiatan belajar yang mereka lakukan. Jaringan komputer dapat dirancang
sedemikian rupa agar dosen dapat berkomunikasi dengan mahasiswa dan mahasiswa
dapat melakukan interaksi belajar dengan mahasiswa yang lain. Interaksi
pembelajaran dengan menggunakan jaringan komputer tidak saja dapat dilakukan
secara individual, tetapi juga untuk menunjang kegiatan belajar kelompok.
Pemanfaatan jaringan komputer dalam sistem pendidikan jarak jauh dikenal juga
dengan istilahComputer Conferencing System (CCF). Biasanya sistem ini
dilakukan melalui surat elektronik atau E-mail. Beberapa kelebihan pemanfaatan
jaringan komputer dalam sistem pendidikan jarak jauh yaitu: dapat memperkaya
model-model tutorial, dapat memecahkan masalah belajar yang dihadapi mahasiswa
dalam waktu yang lebih singkat dan dapat mengatasi hambatan ruang dan waktu
dalam memperoleh informasi. CCF memberi kemungkinan bagi mahasiswa
dan dosen untuk melakukan interaksi pembelajaran langsung antar individu,
individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok (Mason, 1994 dalam
Benny A. Pribadi dan Tita Rosita, 2002:13-14)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar