1. Perkembangan Teknologi Informasi dan Web
Seiring
perkembangan zaman, pemanfaatan internet untuk berbagai kepentingan di
Indonesia terus berkembang. Perkembangan teknologi informasi dapat meningkatkan
kinerja dan memungkinkan berbagai kegiatan dilaksanakan dengan cepat, tepat,
dan akurat, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas.
Perkembangan teknologi informasi sekarang ini memunculkan berbagai jenis
kegiatan berbasis pada teknologi ini, termasuk dalam bidang pendidikan (Wawan
Wardiana: 2002).
Arif S.
Sadiman (2000) mengungkapkan bahwa teknologi informasi dan komunikasi yang
terus berkembang cenderung akan mempengaruhi segenap kehidupan sosial, ekonomi,
politik, budaya, serta pendidikan dan pelatihan. Perkembangan teknologi
informasi tersebut akan menyebabkan bergesernya sistem pendidikan dan pelatihan
dari berorientasi dosen ke sistem yang berorientasi mahasiswa dan semakin
banyaknya pilihan sumber belajar.
Dengan
perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat, maka saat ini sudah
dimungkinkan dan banyak diterapkan proses belajar jarak jauh dengan menggunakan
internet untuk menghubungkan mahasiswa dan dosen, melihat jadwal kuliah,
mengirimkan berkas tugas perkuliahan, melihat nilai, konsultasi, dan bahkan melakukan
diskusi. Suatu pendidikan jarak jauh berbasis web antara lain harus memiliki
unsur sebagai berikut:
1) Pusat kegiatan mahasiswa, dimana mahasiswa dapat menambah kemampuan,
membaca materi kuliah, mencari informasi dan lainnya.
2) Interaksi dalam group, berupa diskusi sesama mahasiswa dan dosen dapat
terlibat di dalamnya.
3) Sistem administrasi mahasiswa, dimana mahasiswa dapat melihat status,
maupun prestasi mereka.
4) Pendalaman materi dan ujian, yakni materi soal pengayaan bagi mahasiswa
yang memerlukan, sesuai dengan kemempuannya.
5) Perpustakaan digital, yakni berisi berbagai informasi kepustakaan baik
berupa data base maupun infomasi perpustakaan online yang dapat
diakses.”(Arif S. Sadiman: 2000).
Web merupakan
salah satu teknologi internet yang telah berkembang sejak lama dan paling umum
dipakai dalam pelaksanaan pendidikan dan latihan jarak jauh. Website merupakan
kumpulan dari halaman-halaman web, gambar-gambar, video, atau bahan digital
lain yang disimpan dalam web server dan dapat diakses melalui internet (http://en.wikipedia.org/
wiki/website).
Secara
umum sistem aplikasi di internet terbagi menjadi dua jenis, yaitu synchronous
system dan asynchronous system. (Davidson & Rasmusen, 2006: 10).
Synchronous system merupakan aplikasi yang berjalan secara waktu
nyata dimana seluruh pemakai dapat berkomunikasi pada waktu yang sama,
contohnya: chatting, dan video conference. Sedangkan asynchronous
system adalah aplikasi yang tidak tergantung pada waktu tertentu, dimana
seluruh pemakai dapat mengakses ke sistem dan melakukan komunikasi antar mereka
disesuaikan dengan waktunya masing-masing, contohnya: millis dan e-mail
Bagi para
pengajar, internet bermanfaat dalam mengembangkan profesinya, karena dengan
internet dapat: (a) meningkatkan pengetahuan, (b) berbagi sumber diantara rekan
sejawat, (c) bekerjasama dengan pengajar di luar negeri, (d) kesempatan
mempublikasikan informasi secara langsung, (e) mengatur komunikasi secara
teratur, dan (f) berpartisipasi dalam forum-forum lokal maupun internasional
(Rechdalle: 2005). Para pengajar juga dapat memanfaatkan internet sebagai
sumber bahan mengajar dengan mengakses rencana pembelajaran atau silabus online
dengan metodologi baru, mengakses materi pelajaran yang cocok untuk siswanya,
serta dapat menyampaikan ide-idenya. Sedangkan peserta didik juga dapat
menggunakan internet untuk belajar sendiri secara cepat, sehingga akan
meningkatkan dan memperluas pengetahuan, belajar berinteraksi, dan
mengembangkan kemampuan dalam bidang penelitian.
Web pada
dasarnya adalah kumpulan informasi yang tersedia di komputer yang bisa diakses
karena adanya jaringan yang tersedia di komputer tersebut. Oleh karena itu
pembelajaran berbasis web bisa dilaksanakan karena adanya jaringan internet,
dan sering disebut dengan nama on-line course.
Herman Dwi
Surjono & Maltby (2003) memberi penegasan bahwa World Wide Web atau
sering disebut web menjadi lingkungan yang kuat untuk mendistribusikan
informasi dan banyak lembaga pendidikan yang menggunakannya untuk mengirim ilmu
pengetahuan kepada stakeholders. Pendapat tersebut mendukung O’Brien & Ruth
Sharratt (2002) yang menganggap inovasi teknologi informasi dan komunikasi
mengubah aturan akademik dalam mengkreasi dan mengirim sumber-sumber
pembelajaran.
Secara umum
website memiliki beberapa fungsi, yaitu: fungsi komunikasi, fungsi informasi,
fungsi hiburan, dan fungsi transaksi (Asep Herman Suyanto, 2006: 5). Berbagai
fungsi yang dimiliki oleh website menyebabkan fleksibilitas pengembangannya
untuk berbagai kepentingan terutama untuk peningkatan kualitas pembelajaran.
2. Pembelajaran Berbasis Web
Pembelajaran
berbasis web adalah proses belajar mengajar yang dilakukan dengan memanfaatkan
jaringan internet, sehingga sering disebut juga dengan e-learning.
Internet merupakan jaringan yang terdiri atas ribuan bahkan jutaan komputer,
termasuk di dalamnya jaringan lokal, yang terhubungkan melalui saluran
(satelit, telepon, kabel) dan jangkauanya mencakup seluruh dunia. Internet
memiliki banyak fasilitas yang dapat digunakan dalam berbagai bidang, termasuk
dalam kegiatan pendidikan. Fasilitas tersebut antara lain: e-mail, Telnet,
Internet Relay Chat, Newsgroup, Mailing List (Milis), File Transfer Protocol
(FTP), atau World Wide Web (WWW) (Oos M. Anwas: 2003).
Khan dalam
Herman Dwi Surjono (1999) mendefinisikan pengajaran berbasis web (WBI)
sebagai program pengajaran berbasis hypermedia yang memanfaatkan atribut
dan sumber daya World Wide Web (Web) untuk menciptakan
lingkungan belajar yang kondusif. Sedangkan menurut Clark WBI adalah
pengajaran individual yang dikirim melalui jaringan komputer umum atau pribadi
dan ditampilkan oleh web browser. Oleh karena itu kemajuan WBI akan
terkait dengan kemajuan teknologi web (perangkat keras dan perangkat
lunak) maupun pertumbuhan jumlah situs-situs web di dunia yang sangat
cepat.
Konvensi
internasional, menyatakan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan
berbagai proses dan aplikasi elektronik untuk pembelajaran, termasuk di
dalamnya adalah CBT, WBI, CD, dan lain-lain. Sedangkan pembelajaran berbasis
web diartikan sebagai pembelajaran melalui internet, intranet, dan halaman web
saja. Namun demikian istilah e-learning dan online learning
sering disamakan dengan pembelajaran berbasis web (Davidson & Rasmusen,
2006: 10).
Walter Dick,
dkk (2005: 1) dalam pengantar desain pembelajaran menyatakan bahwa:
”In a contemporary e-learning or distance learning
course, students are brought together with an instructor (perhaps) and textbook
or online content, and are guided through class activities such as online
exercises, question/answer/discussion boards, projects, and interaction with
classmates”.
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa
dalam pembelajaran berbasis web pengajar menyajikan materi secara online,
memandu siswa melalui aktivitas kelas dalam bentuk latihan, ruang diskusi/tanya
jawab, tugas, dan berinteraksi dengan teman sekelas secara online.
Menurut Herman Dwi Surjono &
Maltby (2003), ada dua keuntungan dari pembelajaran berbasis web, yaitu
kebebasan platform dan ruang kelas. Dengan demikian pembelajaran
berbasis web memiliki fleksibilitas tinggi untuk mengubah seting, struktur,
maupun konten sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik pengguna.
Menurut McManus dalam Herman Dwi
Surjono (1999) ternyata jaringan internet bukanlah semata-mata suatu media,
tetapi lebih dari itu juga merupakan pemberi materi dan sekaligus materinya.
Seorang dosen yang mengajarkan suatu topik tertentu melalui web akan
dengan mudah menghubungkannya dengan situs-situs web yang berkaitan
dengan topik tersebut. Kemampuan ini meliputi: (a) penyampaian materi dalam
berbagai bentuk data serta dapat dihubungkan ke berbagai sumber informasi
lainnya (hypermedia), (b) pendaftaran mahasiswa secara on-line
sehingga bisa dilakukan setiap saat, (c) identifikasi akses berikutnya bagi
mahasiswa yang sudah terdaftar, (d) penelusuran kemajuan belajar, (e) evaluasi,
(f) fleksibilitas kontrol terhadap alur pembelajaran dan lain-lain.
Dengan fasilitas yang dimilikinya,
internet menurut Onno W. Purbo paling tidak ada tiga hal dampak positif
penggunaan internet dalam pendidikan yaitu:
1) Peserta
didik dapat dengan mudah mengambil mata kuliah dimanapun di seluruh dunia tanpa
batas institusi atau batas negara.
2) Peserta
didik dapat dengan mudah berguru pada para ahli di bidang yang diminatinya.
3) Kuliah/belajar
dapat dengan mudah diambil di berbagai penjuru dunia tanpa bergantung pada
universitas/sekolah tempat si mahasiswa belajar. Di samping itu kini hadir
perpustakan internet yang lebih dinamis dan bisa digunakan di seluruh jagat
raya” (Oos M. Anwas: 2003).
Pendapat di atas menunjukkan bahwa
manfaat internet bagi pendidikan adalah dapat menjadi akses kepada sumber
informasi, akses kepada nara sumber, dan sebagai media kerjasama. Akses kepada
sumber informasi yaitu sebagai perpustakaan on-line, sumber literatur,
akses hasil-hasil penelitian, dan akses kepada materi kuliah. Akses kepada nara
sumber bisa dilakukan komunikasi tanpa harus bertemu secara fisik. Sedangkan
sebagai media kerjasama internet bisa menjadi media untuk melakukan penelitian
bersama atau membuat semacam makalah bersama.
Jaya Kumar C. Koran, mendefinisikan e-learning
sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian
elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran,
interaksi, atau bimbingan. Ada pula yang menafsirkan e-learning sebagai
bentuk pendidikan jarak jauh yang dilakukan melalui media internet. Sedangkan
Dong mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous
melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai
dengan kebutuhannya (Oos M. Anwas: 2003).
Rosenberg menekankan bahwa e-learning
merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi
yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Secara lebih rinci
Rosenberg mengkatagorikan tiga kriteria dasar yang ada dalam e-learning,
yaitu: e-learning bersifat jaringan, e-learning dikirimkan kepada
pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet, e-learning
terfokus pada pandangan pembelajaran yang paling luas (Oos M. Anwas: 2003).
Terry Kidd
(2005) dalam tulisannya menyatakan:
“Online and web based courses have become popular with
both students and educational institutions as the new mediums to deliver
educational programs. For universities, they are an excellent way to reach
students in diverse and distant locations. Some may also be used to supplement
school enrollments since students can take the courses anywhere”.
Pendapat di atas lebih memantapkan
implementasi web based learning di perguruan tinggi karena dianggap
memiliki beberapa keunggulan dalam hal biaya perjalanan, kenyamanan, dan
lingkungan belajar yang kondusif.
Duchastel dalam Herman Dwi Surjono
(1999) mengajukan model pengajaran di perguruan tinggi dengan memanfaatkan
jaringan web di internet. Model ini
meliputi fungsi-fungsi yang sengaja dikontraskan dengan model pengajaran konvensional.
Fungsi-fungsi tersebut akan membentuk suatu model yang bisa dipakai sebagai
pedoman bagi para dosen atau perencana instruksional dalam proses perubahan
dari pengajaran konvensional ke bentuk pengajaran yang sesuai melalui web ataupun
mengembangkan suatu program pengajaran berbasis web yang baru.
Oleh karena
dalam web tersedia sumber informasi dan sumber daya pembelajaran yang
melimpah, maka kegiatan belajar tidak difokuskan pada satu atau beberapa sumber
informasi tertentu saja, tetapi bereksplorasi ke berbagai situs-situs yang
berkaitan. Dalam pengajaran konvensional seorang dosen mewajibkan mahasiswa
untuk mempelajari (menghafal) buku atau diktat tertentu untuk kemudian
dievaluasi penguasaannya pada akhir semester. Dalam model pengajaran berbasis web
seorang dosen lebih tepat memberi pengarahan kepada mahasiswa agar mencapai
suatu tujuan akhir yang diharapkan dan membiarkan mahasiswa mengorganisir
proses pembelajarannya sendiri. Dalam hal ini mirip seperti metode proyek, akan
tetapi aplikasinya tidak pada kerja proyek, melainkan pada pengembangan
pengetahuandalam bidang ilmu tertentu.
Model
pengajaran berbasis web juga menekankan penilaian pada level tugas.
Evaluasi tidak sekedar untuk mengetahui tingkat pemahaman suatu materi, tetapi
dikembangkan untuk menilai pencapaian penyelesaian tugas. Mahasiswa tidak
dievaluasi sampai sejauh mana pengetahuan yang dimilikinya tetapi bagaimana ia
memanfaatkan pengetahuannya untuk menyelesaikan suatu permasalahan (Herman
Dwi Surjono: 1999).
Uraian di atas
menunjukan bahwa sebagai dasar dari e-learning adalah pemanfaatan
teknologi internet. Jadi e-learning merupakan bentuk pembelajaran
konvensional yang dituangkan dalam format digital melalui teknologi internet.
Oleh karena itu e-learning dapat digunakan dalam sistem pendidikan jarak
jauh dan juga sistem pendidikan konvensional. Dalam pendidikan konvensional
fungsi e-learning bukan untuk mengganti, melainkan memperkuat model
pembelajaran konvensional.
Cisco
menjelaskan filosofis e-learning sebagai berikut:
1)
E-learning merupakan penyampian informasi, komunikasi, pendidikan, pelatihan secara on-line.
2)
E-learning menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara
konvensional (model belajar konvensional, kajian terhadap buku teks, CD-ROM,
dan pelatihan berbasis komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan
globalisasi.
3)
E-learning tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas,
tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan content dan
pengembangan teknologi pendidikan.
4)
Kapasitas siswa amat bervariasi tergantung pada bentuk
isi dan cara penyampaiannya” (Asep H. S: 2006).
Disamping berbagai kelebihan dari web
based learning, Kevin Kruse (2004) mengidentifikasi dua keterbatasan dari web
based learning. Pertama, adanya keterbatasan human contact yang
berpengaruh besar terhadap pembelajaran. Kedua, terbatasnya komponen multimedia
yang dapat ditampilkan, karena diperlukan bandwidth yang besar.
Berdasarkan pengertian dari beberapa
ahli di atas, maka pembelajaran berbasis web dapat dikategorikan sebagai bagian
dari kegiatan e-learning. Implementasi pembelajaran berbasis web di
perguruan tinggi sangat sesuai dengan karakterisitik peserta didik sebagai
kelompok orang dewasa sehingga layak untuk diterapkan.
3. Landasan Desain Pembelajaran Berbasis Web
Terdapat
beberapa teori yang melandasi penggunaan suatu media dalam kegiatan
pembelajaran. Heinich (1996: 16-18) menjabarkan ada empat perspektif teori pembelajaran
berkaitan dengan pengembangan media, yaitu: behaviorist perspective,
cognitive perspective, constuctive perspective, dan social-psychological
perspective.
Felix
Modritscher (2006) menemukan bahwa setiap strategi e-learning mengikuti
satu dari beberapa teori belajar. Teori behaviorisme, kognitivisme, dan
konstuktivisme dapat dijadikan landasan bagi pembelajaran online khususnya
untuk pembelajaran orang dewasa. Untuk menerapkan strategi e-learning,
disarankan untuk menganalisis karakterisitk peserta didik, mengidentifikasi
motivasi dan kemampuan awal, untuk mengantisipasi siswa dari kegagalan dalam
menyelesaikan studi.
Pengembangan
multimedia pembelajaran berbasis web, setidaknya akan melibatkan beberapa
landasan teori, yaitu teori belajar (behaviorisme, kognitivisme, dan konstruktivisme),
teori sistem, teori komunikasi, dan teori desain instruksional (Davidson &
Rasmusen, 2006: 39).
1)
Teori belajar
Teori belajar
behaviorisme, kognitivisme, dan konstruktivisme melandasi pengembangan desain
pembelajaran berbasis web. Teori behaviorisme menjadi rujukan dalam
mengembangkan desain pembelajaran khususnya dalam bentuk pemberian umpan balik
dalam latihan soal dan petunjuk praktis dalam tugas. Teori kognitivisme
menjadi acuan dalam mengembangkan dan mengorganisasi materi serta aktivitas
pembelajaran. Mengacu pada teori kognitivisme, maka materi dan aktivitas
pembelajaran didesain agar pembelajaran memiliki makna bagi diri peserta
didik, dan menumbuhkan partisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Teori konstruktivisme
menjadi inspirasi dalam mengembangkan bahan ajar, tugas dan diskusi agar
mengandung muatan-muatan yang bersifat kontekstual dan memberikan pengalaman
belajar peserta didik. Konstruktivisme sebagai cabang dari psikologi kognitif
memberikan pengaruh besar terhadap cara berfikir para desainer pembelajaran
(Walter Dick, dkk, 2005: 4).
Menurut
Bransford dalam Felix Modritscher (2006), terdapat empat faktor yang
berpengaruh terhadap proses pembelajaran secara signifikan, yaitu: (1)
attention, (2) motivation, (3) emotions, and (4) experiences of the learner.
Pengembangan e-learning perlu mempertimbangkan proses kognitif seperti
seleksi informasi kedalam memori sensor, integrasi dan organisasi informasi
dengan membangun koneksi dalam short-term memory, serta mengolahnya
melalui pengiriman ke dalam long-term memory.
Membangun
motivasi merupakan hal penting untuk merangsang belajar dengan cara guru
menjelaskan proses belajar yang akan dijalankan. Aspek motivasi dalam e-learning
juga dapat dipengaruhi oleh learning content, kejelasan relevansi
pembelajaran, atau melibatkan elemen interaktif seperti game dan simulasi.
Emosi, seperti
halnya motivasi berpengaruh besar dalam proses belajar. Mengarahkan emosi siswa
pada aspek yang tepat dapat menjadi kunci proses kognitif untuk menyimpan
informasi dalam memori jangka pendek mupun jangka panjang. Dalam e-learning,
peningkatan kualitas pembelajaran dapat diwujudkan melalui emosi dengan storytelling,
empathy, provocations, emotional figures, animations, dan juga kerja
kelompok.
Transfer
pengetahuan dapat ditingkatkan jika mampu membentuk pengalaman belajar siswa
dengan cara menghubungkan pengetahuan awal yang berbeda ke dalam domain yang
sama atau konteks yang sejenis.
2)
Teori sistem
Pembelajaran
berbasis web merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen, yaitu
tujuan pembelajaran, materi, gambar, animasi, navigasi, tugas, diskusi, dan
lain-lain. Oleh karena itu, agar pembelajaran dapat berlangsung efektif perlu
didesain mengikuti teori sistem, dimana sebuah sistem harus disusun secara
sistematis dan sistemik. Dalam hal ini pengorganisasian dan penyajian materi
disusun secara sistematis menurut urutan konsep yang logis. Urutan penyajian
komponen pembelajaran juga didesain secara sistematis mulai dari sajian tujuan
pembelajaran, materi ajar, latihan, diskusi, dan tugas.
3)
Teori
komunikasi
Teori
komunikasi terkait dengan proses pengiriman pesan pembelajaran dari pendidikan
kepada peserta didik, agar berlangsung secara efektif. Untuk membangun
efektivitas transformasi pesan yang berisi pengetahuan maupun nilai-nilai, maka
tampilan pesan yang disajikan harus baik, komunikatif, dan menarik. Oleh karena
itu teori komunikasi menjadi dasar dalam mengemas pesan pembelajaran, tampilan gambar
dan animasi, serta perancangan interface.
4)
Teori desain
instruksional
Menurut teori
desain instruksional (Walter Dick, dkk, 2005: 188), dalam mengembangkan
strategi pembelajaran harus dilakukan content sequence and clustering.
Terdapat lima faktor yang perlu dipetimbangkan dalam meng-cluster bahan
ajar. Faktor-faktor tesebut meliputi tingkatan umur peserta didik, kompleksitas
materi, tipe media yang digunakan, aktivitas belajar siswa, dan waktu yang
tersedia.
Teori-teori
tersebut di atas dianggap relevan dalam mengembangkan model pembelajaran
berbasis web, sesuai dengan porsi dan prinsip masing-masing. Dengan merujuk
pada teori-teori tersebut, maka hasil pengembangan multimedia pembelajaran
berbasis web akan relatif lebih layak.
4. Karakteristik Pembelajaran Berbasis Web
Jolliffe, dkk sebagaimana dikutip oleh Sunaryo (2007) menyatakan bahwa dari
sekian banyak metode dan teknologi yang dipakai dalam pembelajaran berbasis
internet, pada umunya memiliki karakteristik: (a) materi pembelajaran terdiri
atas teks, grafik, dan unsur multimedia seperti video, audio, dan animasi; (b)
adanya aplikasi komunikasi yang realtime dan tidak realtime seperti ruang chat,
forum diskusi, dan konferensi video; (c) menggunakan web browser; (d)
penyimpanan, pemeliharaan, dan pengadministrasian materi dilakukan dalam webserver,
dan (e) menggunakan internet protokol untuk memfasilitasi komunikasi antara
perserta didik dengan materi pembelajaran.
Selain pendapat
Jolliffe di atas, pendapat tentang karakteristik pembelajaran berbasis
internet dikemukakan pula oleh Sukartawi. Menurut Sukartawi (2003),
karakteristik pembelajaran berbasis internet adalah: (a) memanfaatkan jasa
teknologi elektronik, dimana guru dan siswa relatif mudah berkomunikasi tanpa
ada batasan yang bersifat protokoler; (b) memanfaatkan keunggulan komputer; (c)
menggunakan bahan ajar bersifat mandiri yang disimpan di komputer sehingga
dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja; (d) jadwal
pembelajaran, kurikulum, dan kemajuan belajar dapat diakses melalui komputer.
Kacha Chansilp & Ron Oliver (2004) menegaskan bahwa web based
instruction memiliki keunggulan dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka
biasa karena model pembelajaran ini mudah di update, lebih accesible,
lebih fleksibel, dan lebih murah.
Wawancara yang
dilakukan oleh Burge (Muirhead: 2001) menghasilkan identifikasi harapan peserta
didik terhadap pembelajaran online. Harapan-harapan tersebut adalah partisipasi
dalam proses pembelajaran, respon dari pengajar terhadap aktivitas peserta
didik, affective feedback dengan memberikan empati untuk memecahkan
masalah siswa, serta focused messaging dengan memberikan pesan-pesan
atau komentar online secara konsisten melalui forum diskusi.
Dilihat dari
pemanfaatannya, pembelajaran berbasis web dibedakan menjadi tiga tipe yaitu: web
based instruction, web enhanced instruction, dan web supported
instruction. Web based instruction adalah bentuk pendidikan jarak jauh
dimana pembelajaran dikirimkan sepenuhnya secara online. Dalam web based
instruction, peserta didik dan pendidik tidak pernah melakukan interaksi
atau pertemuan tatap muka, seluruh materi pembelajaran dan ujian dikirim
melalui web. Web enhanced instruction adalah bentuk pembelajaran dimana
sebagian materi atau sesi kelas dikirimkan atau dilakukan melalui web dan
sebagian lainnnya diajarkan dalam bentuk tatap muka. Dengan demikian dalam web
enhanced instruction, tidak semua materi diberikan melalui website karena
pertemuan tatap muka masih tetap dilakukan. Dalam hal ini pembelajaran online
menjadi pendukung untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara umum. Web
supported instruction adalah pembelajaran yang dilakukan dengan cara
tradisional dan tatap muka di kelas regular, tetapi diberi tambahan tes atau
aktivitas online (Davidson & Rasmusen, 2006: 24).
Menurut Walter
Dick, dkk, pembelajaran berbasis web merupakan salah satu sistem penyampaian
materi pembelajaran. Sistem penyampaian pembelajaran berbasis web dapat
dilakukan dalam bentuk independent study to instructor-facilitated
dan textual drill and practice to fully interactive multimedia (2005:
185). Dengan demikian pembelajaran berbasis web merupakan salah satu delivery
system yang fleksibel untuk dikembangkan, terutama untuk menciptakan
kemandirian belajar mahasiswa.
5. Model Pengembangan Pembelajaran Berbasis Web
Multimedia
pembelajaran berbasis web merupakan perangkat lunak yang digunakan dalam
aktivitas pembelajaran. Salah satu referensi pengembangan perangkat lunak
adalah pendapat pakar Software Enginering yaitu Roger S. Pressman.
Menurut Pressman (2002: 38), rekayasa perangkat lunak mencakup tahap-tahap:
analisis kebutuhan, desain, pengkodean, pengujian, dan pemeliharaan.
Salah satu
model pembelajaran berbasis web dikembangkan oleh Davidson dan Karel L. Rasmussen
(2006). Model yang dikembangkan oleh Davidson dan Rasmussen tersebut meliputi
tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi.
Tahap analisis
meliputi analisis masalah dan analisis komponen pembelajaran. Tahap desain
meliputi desain pembelajaran dan desain software. Tahap pengembangan adalah
merakit berbagai komponen desain pembelajaran dan software menjadi sebuah
program pembelajaran berbasis web. Tahap implementasi terdiri dari implementasi
sementara dan implementasi penuh. Sedangkan tahap evaluasi dibedakan menajdi
evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
Pengembangan
desain pembelajaran untuk web based learning dirancang sedemikian
rupa agar proses pembelajaran online tersebut dapat berjalan dengan efektif.
Ada tiga elemen pokok yang harus ada dalam desain model pembelajaran berbasis
web, yaitu learning tasks, learning resources, dan learning supports.
Learning tasks mencakup aktivitas, masalah, dan interaksi untuk
melibatkan peserta didik. Learning resources memuat konten, informasi
dan sumber-sumber yang dapat diakses oleh peserta didik. Learning supports
terkait dengan petunjuk belajar, motivasi, umpan balik, dan kemudahan akses
bagi peserta didik (Ron Oliver: 2001).
Sukartawi
(2003) menyarankan beberapa tahap yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan
model pembelajaran berbasis web. Tahap-tahap tersebut meliputi: analisis
kebutuhan, rancangan instruksional, pengembangan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Tahap awal yang perlu dipertimbangkan adalah apakah pembelajaran berbasis web memang
dperlukan. Hal tersebut harus disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi
lembaga pendidikan. Rancangan instruksional meliputi aspek analisis konten,
analisis peserta didik, dan analisis komponen pembelajaran lainnya.
Pengembangan e-learning merupakan proses produksi program dengan
mengintegrasikan berbagai software dan hardware yang diperlukan.
Pelaksanaan merupakan realisasi penggunaan program yang telah dihasilkan dan
menganalisis kelemahan-kelemahan yang terjadi. Evaluasi diperlukan dalam bentuk
beta test ataupun alfa test untuk menguji usabilitas dan efektivitas program
sebelum diimplementasikan secara formal.
Pengembangan
model pembelajaran berbasis web perlu memperhatikan komponen strategi
pembelajaran. Komponen-komponen utama dari strategi pembelajaran yang harus
dirancang adalah: aktivitas awal pembelajaran, penyajian materi, partisipasi
peserta didik, penilaian, dan aktivitas tindak lanjut (Walter Dick, dkk, 2005:
197). Aktivitas awal pembelajaran berupa pemberian motivasi, menumbuhkan perhatian,
menjelaskan tujuan pembelajaran, dan menjelaskan kemampuan awal yang
diperlukan. Penyajian materi meliputi sajian bahan ajar dan contoh-contoh yang
relevan. Partisipasi peserta didik
dibangun dengan adanya praktik atau latihan dan umpan balik. Penilaian dapat
berupa tes kemampuan awal, pretest, dan posttest. Aktivitas
tindak lanjut dilakukan untuk membantu mempertahankan daya ingat terhadap
materi pembelajaran.
http://mitraedumediayk.blogspot.com/p/pembelajaran-berbasis-web.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar